Tips Pengaturan Celah Busi

Celah alias gap busi yang sering dianggap sepele, ternyata bisa jadi faktor penyebab borosnya konsumsi BBM di motor. Makanya perawatan rutin alias servis berkala jadi sangat penting dilakukan. Salah satunya, pengecekan celah busi untuk mendapat konsumsi BBM paling ideal. Kalau penasaran, bisa tengok buku servis yang sudah jadi kelengkapan sejak motor masih anyar. Setiap motor punya celah busi yang sudah disarankan pabrikan. Bila penyetelan di luar ketentuan, tak hanya BBM yang amblas, tetapi akselerasi dan top speed bisa tersunat.


Mesin ditahan pada 3000 rpm dengan asumsi econo ride pada kisaran ini.


Celah busi disetel ulang pada 0,40 mm, 0,60 mm dan 0,80 mm.

Hubungannya dengan kinerja mesin sangat erat dengan waktu pengapian dan besarnya percikan api di ruang bakar. “Kalau celah busi terlalu rapat, tarikan awal sedikit berkurang dan gejala ngelitik terasa karena mesin menjadi cepat panas,” jelas David Ahie, mekanik balap yang piawai di soal pengapian mobil.
Sebaliknya bila celah terlalu renggang, percikan api memang menjadi besar namun disertai penurunan stasioner (langsam) karena timing pengapian menjadi mundur. Berbuntut tenaga mesin menjadi enak tetapi konsumsi lebih boros.

Jadi, menurut Ahie sebaiknya setelan busi dibuat pas atau sesuai standar pabrik saja bila untuk pemakaian harian. “Kalau mau irit, rapatkan sedikit sekitar 0,1 mm atau gunakan patokan celah terkecil yang disarankan pabrik,” terangnya.

Biar tidak penasaran, OTOMOTIF melakukan tes komparasi celah (kerenggangan) busi di Suzuki Thunder 125 yang masih ‘perawan’ dari pabrik. Tes pakai busi anyar versi aftermarket merek Denso dengan kerenggangan 0,40 mm, 0,60 mm dan 0,80 mm.

Pakai bensin sejumlah 50 cc, mesin dihidupkan dengan putaran mesin konstan di 3.000 rpm. Asumsinya adalah pada putaran ini mesin dalam kondisi econo ride. Lalu mesin dihidupkan sampai 50 cc di gelas takar habis yang dibarengi pencatatan waktu.

Hasilnya cukup mengagetkan mengingat perbedaan celah busi hanya terpaut 0,20 mm setiap setelan. Dari penghitungan tes, kondisi celah busi pada setelan 0,60 mm paling hemat karena butuh waktu paling lama buat menghabiskan 50 cc bensin; 8,05 detik.

Sementara pada setelan 0,40 mm, bensin sebanyak 50 cc habis dalam waktu lebih cepat (7,43) detik yang dibarengi dengan suhu mesin lebih tinggi. Lain lagi saat busi disetel pada celah 0,80 mm. Bensin 50 cc di gelas takar habis hanya dalam waktu 6,48 detik. Dari data komparasi ini sangat menjelaskan bagaimana kerenggangan celah busi bisa berpengaruh ke konsumsi.

source:www.otomotifnet.com

List Harga Spare Part Suzuki Thunder125

1 09471-12020-000 BULB,12V35/35W 25,500
2 09471-12196-000 BULB CUN LAMP HOLDER EUII 3,500
3 09471H12005H000 BULB (12/3W) EUII 3,500
4 09471H12013H000 BULB GEARSHIFT EUII 4,500
5 11341-45F00-000 COVER CLUCTH EUII 253,000
6 12111-12F50-0F0 PISTON STD 55,000
7 12140-21F00-000 RING SET PISTON 88,000
8 12140-21F00-050 RING SET PISTON 88,000
9 12161-12F80-0B0 CONNROD 69,300
10 12211-05241-000 PIN, CRANK 30,000
11 12261-12F50-000 CRANKSHAFT,LH 185,100
12 12760-12F50-000 CHAIN COMP, CAMSHAFT DRIVE 150,000
13 12771-12F50-000 GUIDE,CAM CHAIN 25,000
14 12811-12F50-000 TENSIONER,CAM CHAIN 33,000
15 12830-12F50-000 ADJUSTER ASSY TENSIONER 45,000
16 12832-12F50-000 O RING 2,000
17 12837-32410-000 GASKET,TENSIONER ADJUSTER 2,000
18 12850-25C00-000 ARM,VALVE ROCKER 80,000
19 12861-05211-000 SHAFT, VALVE ROCKER ARM 14,300
20 12911-12F50-000 VALVE, INTAKE 35,000
21 12912-12F50-000 VALVE, EXHAUST 45,000
22 12931-09410-000 RETAINER 12,500
23 12933-39E10-000 SEAT, VALVE SPRING 12,500
24 13101-053A0-000 PIPE ASSY, INTAKE 25,000
25 13200-054G1-000 CARBURETOR ASSY 700,000
26 13268-054A0-000 SPRING 1,000
27 13279-12F20-000 ADJUSTER 25,000
28 13382-46E00-000 WASHER 1,000
29 13385-05F00-000 HOLDER JET 44,000
30 13386-09410-000 WASHER 1,000
31 13388-20E20-000 SPRING 1,000
32 13411-054A0-000 PLUNGER ASSY 55,000
33 13417-47E00-000 SPRING 10,000
34 13500-48F00-000 VALVE ASSY, PISTON 198,000
35 13502-12F00-000 DIAPHRAGM COVER ASSY 8,500
36 13507-054G0-000 DIAPHRAGM 35,000
37 13574-05F00-000 RING 1,000
38 13581-05F00-000 PLATE 1,000
40 13700-34G00-000 CLEANER ASSY EUII 66,000
41 13700-45F00-000 CLEANER ASSY, AIR 90,000
42 13780-45F00-000 FILTER COMP 45,000
43 14091-45F10-000 MUFFLER 440,000
44 14305-45F70-000 MUFFLER COMP EUROII 440,000
45 14780B23FA0N000 COVER COMP MUFF 20,000
46 14790-45F10-000 COVER BODY MUFF EUII 38,000
47 16321-05220-000 GEAR OIL PUMP DRIVE 30,000
48 16331-12F00-000 GEAR,OIL PUMP DRIVEN 20,000
49 16400-05201-000 PUMP ASSY,ENGINE OIL 99,000
50 16512-12F50-000 CAP, OIL FILTER 33,000
51 21411-05210-000 HUB,CLUTCH SLEEVE 80,000
52 21441-13A20-000 PLATE CLUTCH DRIVE 30,000
53 23110-05202-000 ROD, CLUTCH PUSH 20,000
54 23110-05203-000 ROD, CLUTCH PUSH 20,000
55 23117-05200-000 RETAINER CL RLSE OIL SEAL 1,500
56 23117-05210-000 RETAINER, CLUTCH RELEASE 1,500
57 23121-38210-000 PIECE, CLUTCH PUSH 33,000
58 27511-41320-000 SPROCKET, ENGINE (14T) 25,000
59 27600-29B40-118 CHAIN ASSY DRIVE 66,000
60 31100-05530-000 MOTOR ASSY STARTING 315,500
61 31310-11D00-000 ARMATURE 499,000
63 31800-49110-000 RELAY STARTING MOTOR 49,000
64 32800-29B00-000 RECTIFIER ASSY 165,000
65 32800-37G00-000 RECTIFIER ASSY 165,000
66 32900-053B0-000 IGNITIER ASSY 330,000
67 32900-053D0-000 IGNITIER ASSY EUII 330,000
68 34910-26440-000 CABLE ASSY, SPEEDOMETER 27,500
69 38610-45F00-000 REALY ASSY TURN SIGNAL 38,500
70 45100-45F00-000 SEAT ASSY 385,000
71 45511-45F00-YLN COVER SEAT TAIL R SILVER 79,200
72 45512-45F00-YLN COVER SEAT TAIL L SILVER 79,200
73 45513-45F00-YLN COVER SEAT TAIL CTR 16,900
74 47111-45F00-YLN COVER FRAME R SILVER 67,400
76 51530-45F00-000 BRACKET COMP, UNDER 45,000
77 53111-45F00-YFZ FENDER,FRONT (RED) 143,000
78 53111-45F00-YGB FENDER, FRONT (BLUE) 143,000
79 53111-45F00-YHP FENDER FRONT (BLACK) 143,000
80 53111-45F01-YFZ FENDER FR RED 143,000
81 53111-45F01-YGB FENDER FR BLUE 143,000
82 53111-45F01-YHP FENDER FR BLACK 143,000
83 53111-45F01-YLN FENDER FRONT SILVER 143,000
84 58200-45F40-000 CABLE ASSY CLUTCH EUROII 27,900
85 59300-05840-000 PAD & SHIM SET 99,000
86 63111-45F00-000 FENDER REAR 71,500
87 64511-45F00-000 SPROCKET, REAR (45T-428) 66,000
88 68110-45F10-YGE TAPE SET FUEL TANK 52,400
89 per kopling thailand 5buah 42,000

Terakhir diubah oleh tanggal Mon 17 Sep 2007

http://suzuki-thunder.net/bengkel-dan-suku-cadang-suzuki-thunder-f14/list-part-en125-dari-bro-caplang-t1898.htm

Menaikkan Performa Thunder 125

Enggak sedikit pemilik Thunder 125 yang mengeluhkan performa besutannya! Apalagi, jika yang diomongi itu akselerasi ataupun power. Malah ‘lari’ motor tipe sport itu hanya bisa berjaban dengan bebek lho.

“Maklum aja, itu karena kapasitas mesin yang hanya 125 cc. Enggak sedikit orang yang bilang motor sport dengan cc segitu disebut banci. Karena volume silinder mesin yang serba tanggung,” bilang Parno dari Ponorogo Motor Sport di Pasanggrahan, Jakarta Selatan.

Memang sih pendapat Parno ada benarnya. Apalagi dengan kapasitas mesin segitu Thunder 125 kudu membawa bobot kosong 122 kg. Belum lagi ditambah bensin di tangki penuh yang punya volume full 14 liter. Itu semua juga belum termasuk berat pengendara! Kebayangkan berapa beratnya.

Nah, semua perhitungan itu jangan disamakan dengan bobot motor bebek
yang jumlahnya tak lebih dari 100 kg dong. Begitunya sobat juga enggak
mau kan kalau motornya punya cap atau sebutan gak mengenakan itu!

Ini Em-Plus bantu deh buat bikin Thunder 125 jadi perkasa. Tapi bukan pakai obat kuat seperti yang banyak dijual di pinggir jalan. Itu sih obat kuat
khusus lelaki ya!

Part ini semua untuk mendukung performa mesin Thundie. Mulai pengapian, hingga saluran buang. Ketimbang cuap melulu, monggo simak.

CDI

Resep alias obat yang pertama ini langsung menuju otak pengapian. Namanya otak, tentu pusat syaraf. Makanya biar api yang dikirim buat meledakan campuran bahan bakar dan udara lebih besar, CDI kudu diganti tipe un-limitter.

Saat ini CDI yang khusus tersedia buat Thunder di pasaran baru tersedia
merek BRT. “Sistem pengapian di Thunder 125 mengadopsi tipe Transistor
Ignition System (TIS). Jadi ketika ganti CDI, harus dibarengi dengan
penggantian koil,” ungkap Tomy Huang, pembuat CDI BRT dari Cibinong,
Jawa Barat.

Karena aplikasi tipe TIS, maka koil juga harus dialiri arus 12 volt.
Sistem pengapian ini, sama seperti di mobil. Setelah ganti CDI dan
koil, enggak perlu lagi ubah timing pengapian. “Penggantian CDI ini, bisa menaikan power sekitar 1 dk (daya kuda; red),” lanjut Tomy.

KOIL

Seperti yang sudah dibilang di atas, penggantian CDI mesti
didukung penggantian koil. Koil yang dipakai bisa mengadopsi milik
motor apa saja. Namun, di pasaran juga banyak tersedia pilihan koil aftermarket tipe racing.

“Selama ini, enggak sedikit pemilik Thunder 125 yang memakai koil dari
Suzuki RM125,” ujar Morgan dari Raja Motor di Jl. Ciledug Raya, No. A1,
Larangan Utara, Ciledug Mal, Tangerang.

Bicara soal harga, tentunya koil milik motor special engine (SE) itu nggak murah.

PORTING & POLISH

Pengapian diperbesar, nggak ada salahnya lakukan proses porting dan polish pada lubang masuk dan buang di kepala silinder. “Tujuannya, mengubah arah sudut aliran pengabutan ke ruang bakar,” kata Tomy.

Anggapan serupa juga diungkapkan Morgan dan Parno. Tanpa porting, rasanya up-grade yang dilakukan kurang maksimal. Begitu juga polish. Biar campuran udara dan bahan bakar mudah meluncur ke ruang bakar, bagian yang kelar diporting kudu dipoles biar licin.

Tomy Huang yang pernah melakukan proses ini bilang, tenaga Thunder 125
bisa naik sekitar 2 dk. Tentunya, setelah porting dan ubah otak
pengapian ya.

KARBURATOR


Aslinya, Suzuki Thunder 125 adopsi karburator model vakum ukuran 26 mm (Mikuni BS26SS). Buat mendukung performa setelah up-grade yang dilakukan, nggak ada salahnya karburator diganti tipe konvensional.

“Pilihannya selama ini banyak yang pakai karburator Keihin tipe PE
ukuran 28 mm,” ungkap Morgan. Begitunya, aliran yang dikucurkan makin
deras tapi harga karbu juga cukup murah.

KNALPOT

Biar lebih maksimal lagi, peningkatan performa juga harus didukung pengaplikasian knalpot racing. Soalnya, saluran buang ini mengaplikasi tipe free flow alias langsung.

Pakai knalpot tipe ini, gas buang gak bakal tertahan lama di dalam tabung. Soalnya, gas yang meluncur keluar hanya berhadapan dengan peredam di dalam silincer. Beda dengan knalpot standar yang memiliki banyak sekat.

Banyak tipe bisa dipilih. Mau yang tipe racing look ataupun knalpot dengan silincer model terompet. “Semuanya bisa meningkatkan power motor,” ungkap Novi dari Inti Jaya Motor di Jl. Kebon Jeruk V, No. 260A, Kota, Jakarta Barat.

KAMPAS KOPLING


Jika entakan sudah besar, bisa gunakan kampas kopling tipe racing yang
banyak dijual di pasaran. Kampas kopling milik Thunder 125, bisa saling
subsitusi dengan milik Suzuki RG-R atau Suzuki Satria F-150.

“Bisa juga pakai kampas kopling orisinal milik Satria F-150,” saran
Morgan. Soalnya, peranti milik Satria F-150 lebih tebal ketimbang
aslinya Suzuki Thunder 125. Begitunya, kampas pun jadi lebih awet.

TABEL HARGA

CDI
BRT Rp 350 ribuan

Koil
RM125 Rp 550 ribuan
Blue Thunder Rp 190 ribuan
Andrion Series Rp 175 ribuan

Karburator
Keihin PE28 Rp 600 ribuan
Keihin PE28 (Daytona) Rp 1,3 juta

Knalpot
Spider Rp 250 – 500 ribu
Konic Rp 350 ribuan

Kampas Kopling
Satria FU150 Rp 43.200 (1 pcs)

FOOTSTEP RACING

Enggak salah juga pakai footstep racing. Kan tak cuma mesin/url] doang yang diubah performanya, tapi tampilan juga bisa sedikit didongkrak. Nah, ada nih tawaran pijakan kaki ala underbone.

“Peranti ini sudah tersedia braket buat dudukan ke sasis. Jadi, tinggal
pasang,” ujar Novi dari Inti Jaya Motor yang bisa dikontak di Nomor
(012) 6012360 atau 6397982. Satu set footstep dijual Rp 100 ribu.

Disadur Dari : http://suzuki-thunder.net/problem-dan-solusi-tip-dan-trik-utk-suzuki-thunder-f8/m-up-grade-performa-suzuki-thunder-125-t2842.htm

Konsep IP Addres Part2

Dasar TCP/IP

IP Address adalah alamat yang iberikan ke jaringan dan peralatan jaringan yang menggunakan protocol TCP/IP. IP Address terdiri dari 32 bit angka biner yang dapat dituliskan sebagai empat angka desimal yang dipisahkan oleh tanda titik seperti 192.16.10.1.

Oleh karena protocol IP adalah protocol yang paling banyak dipakai untuk meneruskan (routing) informasi didalam jaringan komputer satu dengan lain, maka kita harus benar-benar memahami IP address ini. Namun pengertian IP address dan subnetting sering agak membingungkan pemakai. Oleh sebab itu dalam disini akan diuraikan tahap demi tahap konsep IP address tersebut dengan harapan agar anda dapat mengerti cara penggunaan nya dengan baik.

Mengubah Angka Biner ke Desimal.

Sebelum menggunakan IP address, pertama-tama yang perlu anda harus ketahui adalah cara mengubah angka biner ke desimal dan sebaliknya. Cara yang termudah adalah dengan memperhatikan langkah-langkah dibawah ini.

Setiap angka biner 1 tergantung pada posisinya didalam kelompok binernya, memiliki nilai desimal tertentu seperti tampak pada table berikut

Binner

1

1

1

1

1

1

1

1

Desimal

128

64

32

16

8

4

2

1

Angka binner 0 memiliki nilai 0 dengan menghitung angka desimal yang bersangkutan maka akan dapat diketahui nilai desimal dari kelompok binner yang bersangkutan.

Contoh : 11001011

Binner

1

1

0

0

1

0

1

1

Jml Desimal

Desimal

128

64

0

0

8

0

2

1

= 203

Contoh : 00111101

Binner

0

0

1

1

1

1

0

1

Jml Desimal

Desimal

0

0

32

16

8

4

0

1

= 61

Mengubah angka Desimal ke Biner

Contoh : 203

203 : 2 = 101 sisa 1

101 : 2 = 50 sisa 1

50 : 2 = 25 sisa 0

25 : 2 = 12 sisa 1

12 : 2 = 6 sisa 0

6 : 2 = 3 sisa 0

3 : 2 = 1 sisa 1

sisa 1

ditulis kedalam biner sisa pembagian dari bawah ke atas menjadi 11001011

Contoh : 61

61 : 2 = 30 sisa 1

30 : 2 = 15 sisa 0

15 : 2 = 7 sisa 1

7 : 2 = 3 sisa 1

3 : 2 = 1 sisa 1

sisa 1

ditulis kedalam biner sisa pembagian dari bawah ke atas menjadi 111101

Kelas IP Address

Seperti yang telah dijelaskan atas, IP address terdiri dari 32 bit angka biner yang dapat ditulis dalam empat kelompok terdiri atas 8 bit (oktet) dengan dipisah oleh tanda titik. Contohnya adalah seperti berikut ini :

11000000.00010000.00001010.00000001

atau dapat juga ditulis dalam bentuk empat kelompok angka desimal (0-255) seperti contoh berikut :

192.16.10.1

atau secara simbolik dapat ditulis sebagai 4 kelompok angka sebagai berikut :

w.x.y.z

IP Address terdiri dari 2 bagian yaitu network ID dan host ID, dimana network ID menentukan alamat dari jaringan dan host ID menentukan dari peralatan jaringan. Oleh karena itu IP address memberikan alamat lengkap dari suatu peralatan jaringan beserta alamat jaringan dimana peralatan itu berada. Ini sama ibaratnya dengan pemberian alamat rumah dimana tempat tinggal kita berada.

Dalam contoh ini, alamat jaringan (network ID) yang sering juga disebut network address adalah 192.16.10.0 yang merupakan nama jalan. Sedangkan alamat lengkap atau IP address dari masing-masing server dan workstation adalah 192.16.10.1, 192.16.10.2, 192.168.10.3, dan 192.168.10.4.

Berapa kelompok angka yang termasuk network ID dan berapa yang termasuk host ID, bergantung kepada kelas dari IP address yang dipakai. Untuk mempermudah pemakaian, bergantung pada kebutuhan si pemakai. Oleh sebab itu IP address dibagi dalam tiga kelas seperti tampak pada table berikut.

Kelas Network ID Host ID Default Subnet Mask

A

W.

X.Y.Z

255.0.0.0

B

W.X

Y.Z

255.255.0.0

C

W.X.Y

Z

255.255.255.0

Untuk menandai kelas satu dengan kelas yang lain, maka dibuat beberapa peraturan sebagai berikut :

  • Oktet pertama dari kelas A harus dimulai dengan angka biner 0.
  • Oktet pertama dari kelas B harus dimulai dengan angka biner 10.
  • Oktet pertama dari kelas C harus dimulai dengan angka biner 110.

Oleh sebab itu, IP address dari masing-masing kelas harus dimulai dengan angka desimal tertentu pada oktet pertama, seperti terlihat pada Tabel berikut ini :

KELAS RANGE

Maksimum Network

Max Host / Network

A

1-126

127

16777214

B

128-191

16384

65534

C

192-223

2097152

254

Disamping itu ada beberapa peraturan yang harus diketahui yaitu :

  • Angka 127 dioktet pertama digunakan untuk loopback
  • Network ID tidak boleh semuanya terdiri dari angka 0 atau 1
  • Host ID tidak boleh semuanya terdiri dari angka 0 atau 1

Agar jaringan dapat mengetahui kelas mana yang dipakai oleh IP address, dipergunakan default subnet mask. setiap IP address harus memiliki default subnet mask. Angka desimal 255 atau biner 11111111 dari default subnet mask menandakan bahwa oktet yang bersangkutan dari IP address adalah untuk network ID. Sedangkan angka desimal 0 atau biner 00000000 dari default subnet mask menandakan bahwa oktet yang bersangkutan dari IP address adalah untuk host ID.

Contoh :

1. IP address 25.20.5.31

Default subnet mask 255.0.0.0

Berada dikelas A

2. IP address 172.20.5.31

Default subnet mask 255.255.0.0

Berada dikelas B

3. IP address 195.20.5.31

Default subnet mask 255.255.255.0

Berada dikeasl C

Jadi untuk menentukan kelas suatu IP bisa langsung dilihat dari oktet pertama IP tersebut (contoh : 195.20.5.31)

Jika diperhatikan, kelas A memberikan paling sedikit jumlah network ID dan sangat banyak host ID nya. Hal ini karena hanya oktet pertama yang dipakai sebagai network ID, sedangkan ketiga oktet lainnya dipakai untuk host ID, kelas B memberikan jumlah yang sama untuk network ID dan host ID, sedangkan kelas C memberikan jumlah jumlah yang paling banyak untuk network ID dan hanya sedikit untuk host ID.
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Idalam dunia Internet, IP address ini dipergunakan untuk memberikan alamat pada suatu situs. Misalnya east-timor.org mempunyai address 202.160.244.10. Agar pemakaian IP address ini seragam diseluruh dunia, maka pemberian IP address untuk digunakan diatur oleh sebuah badan internasional yang bernama internic. Dalam pemberian IP address ini, internic hanya memberikan IP address dengan network ID saja, sedangkan host ID nya diatur oleh pemilik IP addres tersebu. System yang mengatur translasi antara suatu nama situs dengan suatu IP address alainya disebut DNS (Domain Name System). Jadi seperti contoh diatas nama situs east-timor.org ditranslasikan oleh DNS sebagai 202.160.244.10.

Catatan : untuk pemakaian IP address yang tidak terhubung dengan Internet tidak memerlukan izin dari internic.

Broadcast

Seperti telah dibahas diatas, bit-bit dari network ID maupun host ID tidak boleh semuanya berupa angka biner 0 atau 1. Apabila semua network ID dan host ID semuanya berupa angka biner 1, yang dapat ditulis sebagai 255.255.255.255 maka alamat ini disebut flooded broadcast.

Jika host ID semua berupa angka biner 0, IP address ini menyatakan alamat network dari jaringan yang bersangkutan. Jika host ID semuanya berupa angka 1, maka IP address ini ditujukan untuk semua host didalam jaringan yang bersangkutan yang dipergunakan untuk mengirim pesan (broadcast) kepada semua host yang berada didalam jaringan local.

SUBNETING

Jika seorang pemilik sebuah IP address kelas B misalnya dengan network ID 130.200.0.0 memerlukan lebih dari 1 network ID, maka ia harus mengajukan permohonan ke Internic untuk mendapatkan IP address baru. Namun persediaan IP address pada saat ini sangat terbatas karena menjamurnya jumlah situs-situs di internet. Untuk mengatasi kesulitan ini dan menghindarkan banyak nya pengajuan baru ke Internic, munculah suatu teknik untuk memperbanyak network ID dari satu network ID yang sudah ada. Hal ini dinamakan subnetting, dimana sebagian Host ID dikorbankan untuk dipakai dalam membuat network tambahan.

Sebagai contoh : IP address 130.200.0.0 (100000010.11001000.00000000.00000000) dengan default subnet mask 255.255.0.0 untuk mempelajari subnetting sekarang misalnya kita ingin memiliki 2 network ID dari IP address yang telah kita miliki. Untuk itu kita Mask 2 bit dari host ID tersebut, maka sekarang kita memiliki empat kombinasi 00, 01, 10, dan 11 tetapi karena 00 dan 11 semuanya 0 atau semua 1 yang menurut peraturan IP address tidak diizinkan, maka tinggal 2 kombinasi 01 dan 10 saja yang bisa dipakai untuk subnet.

Sekarang perhatikan apa yang terjadi dengan default subnet mask 255.255.0.0 atau 11111111.11111111.00000000.00000000 dimana 2 bit teratas host ID diselubung (mask) untuk menjadi bagian dari network ID. Subnet mask yang baru sekarang menjadi 255.255.192.0

Dengan demikian kita telah membuat dua network ID baru

10000010.11001000.01XXXXXX.XXXXXXXX dan

10000010.11001000.10XXXXXX.XXXXXXXX

dengan subnet mask baru :

11111111.11111111.11000000.00000000 atau 255.255.192.0

dimana X adalah angka 0 atau 1 untuk membuat host ID yang memenuhi peraturan-peraturan IP address. Oleh sebab itu kelompok IP address dibawah ini tersedia untuk dua bit yang diselubung (mask).

Kelompok pertama adalah :

10000010.11001000.01000000.00000001 atau 130.200.64.1

sampai

10000010.11001000.10000000.00000001 atau 130.200.127.254

kelompok kedua adalah :

10000010.11001000.10000000.00000001 atau 130.200.128.1

sampai

10000010.11001000.10111111.11111110 atau 130.200.191.254

selain dengan menggunakan cara diatas untuk menentukan kelompok subnet, ada cara yang lebih singkat yang dapat kita lakukan sebagai berikut :

Misalnya kita menggunakan kelas B network ID 130.200.0.0 dengan subnet mask 255.255.221.0 dimana oktet ketiga diselubung dengan 224. Hitung dengan rumus 256-224 = 32. Maka kelompok subnet yang dapat dipakai adalah kelipatan 32 yaitu 32, 64, 128, 160, dan 192.

Dengan demikian kelompok IP adess yang dapat dipakai adalah :
130.200.32.1 sampai 130.200.63.254

130.200.64.1 sampai 130.200.95.254

130.200.96.1 sampai 130.200.127.254

130.200.128.1 sampai 130.200.159.254

130.200.160.1 sampai 130.200.191.254

130.200.192.1 sampai 130.200.223.254

Disamping penulisan IP address yang umum, dikenal pula penulisan IP address dengan notasi yang lebih singkat seperti dibawah ini :

IP address 130.200.10.1 dengan subnet mask 255.255.0.0 dapat ditulis secara singkat sebagai 130.200.10.1/16 Angka 16 dibelakang garis miring menandakan bahwa 16 bit dari subnet mask diselubung dengan angka biner 1, yaitu

11111111.11111111.00000000.00000000

Notasi penulisan singkat ini juga berlaku untuk IP address yang menggunakan metode subneting seperti contoh dibawah ini :

IP address 172.16.10.1 dengan subnet mask 255.255.255.0 dapat ditulis secara singkat sebagai 172.16.10.1/24. Angka 24 dibelakang garis miring menandakan bahwa 24 bit dari subnet mask diselubung dengan angka biner 1, yaitu

1111111.11111111.11111111.00000000 atau 255.255.255.0

Dari penjelasan dan contoh diatas, kita telah mempelajari bahwa dengan subnetting, Kita dapat menyelubung dua atau lebih bit-bit host ID selama masih tersedia bit yang dapat diselubung. Semakin banyak bit yang diselubung, semakin banyak pula network ID yang dapat kita buat. Namun demikian jumlah host ID nya akan berkurang seperti pada table berikut ini.

 

Kelas A

 

# bit masked

 

#subnet

SUBNET MASK

#host / subnet

1

Invalid

Invalid

2

2

255.192.0.0

4194302

3

6

255.224.0.0

2097150

4

14

255.240.0.0

1048574

5

30

255.248.0.0

524286

6

62

255.252.0.0

262142

7

126

255.254.0.0

131070

8

254

255.255.0.0

65534

9

510

255.255.128.0

32766

10

1022

255.255.192.0

16382

11

2046

255.255.224.0

8910

12

4094

255.255.240.0

4094

13

8910

255.255.248.0

2046

14

16382

255.255.252.0

1022

15

32766

255.255.254.0

510

16

65534

255.255.255.0

254

17

131070

255.255.255.128

126

18

262142

255.255.255.192

62

19

524286

255.255.255.224

30

20

1048574

255.255.255.240

14

21

2097150

255.255.255.248

6

22

4194302

255.255.255.252

2

23

255.255.255.254

Invalid

24

255.255.255.255

Invalid

       

Note: Artikel ini sudah bertahun-tahun ada di folder data lama, Saya mengetiknya udah lama banget sampe sumber asli nya udah lupa lagi. Yang pasti sumber asli nya itu sebuah buku networking yang judul dan pengarang nya sudah lupa.

Konsep IP Address Internet

Konsep IP Address di Internet
Oleh : Aulia K. Arif & Onno W. Purbo

Walaupun bagi para pengguna Internet umumnya kita hanya perlu mengenal hostname dari mesin yang dituju, seperti: server.indo.net.id, rad.net.id, ui.ac.id, itb.ac.id. Bagi komputer untuk bekerja langsung menggunakan informasi tersebut akan relatif lebih sulit karena tidak ada keteraturan yang dapat di programkan dengan mudah. Untuk mengatasi hal tersebut, komputer mengidentifikasi alamat setiap komputer menggunakan sekumpulan angka sebanyak 32 bit yang dikenal sebagai IP address.

Adanya IP Address merupakan konsekuensi dari penerapan Internet Protocol untuk mengintegrasikan jaringan komputer Internet di dunia. Seluruh host (komputer) yang terhubung ke Internet dan ingin berkomunikasi memakai TCP/IP harus memiliki IP Address sebagai alat pengenal host pada network. Secara logika, Internet merupakan suatu network besar yang terdiri dari berbagai sub network yang terintegrasi. Oleh karena itu, suatu IP Address harus bersifat unik untuk seluruh dunia. Tidak boleh ada satu IP Address yang sama dipakai oleh dua host yang berbeda. Untuk itu, penggunaan IP Address di seluruh dunia dikoordinasi oleh lembaga sentral Internet yang di kenal dengan IANA – salah satunya adalah Network Information Center (NIC) yang menjadi koordinator utama di dunia untuk urusan alokasi IP Address ini adalah :

InterNIC Registration Services Network Solution Incorporated 505 Huntmar Park Drive, Herndon, Virginia 22070 Tel: [800] 444-4345, [703] 742-4777 FAX: [703] 742-4811 E-mail: hostmaster@internic.net

Sedangkan untuk tingkat Asia Pasifik saat ini masih dikoordinasi oleh:

Asia Pacific Network Information Center c/o Internet Initiative Japan, Inc. Sanbancho Annex Bldg., 1-4, Sanban-cho, Chiyoda-ku, Tokyo, 102 Japan Tel: +81-3-5276-3973 FAX: +81-3-5276-6239 E-mail: domreg@apnic.net http://www.apnic.net

Struktur IP Address

IP Address terdiri dari bilangan biner sepanjang 32 bit yang dibagi atas 4 segmen. Tiap segmen terdiri atas 8 bit yang berarti memiliki nilai desimal dari 0 – 255. Range address yang bisa digunakan adalah dari 00000000.00000000.00000000.00000000 sampai dengan 11111111.11111111.11111111.11111111. Jadi, ada sebanyak 232 kombinasi address yang bisa dipakai diseluruh dunia (walaupun pada kenyataannya ada sejumlah IP Address yang digunakan untuk keperluan khusus). Jadi, jaringan TCP/IP dengan 32 bit address ini mampu menampung sebanyak 232 atau lebih dari 4 milyar host. Untuk memudahkan pembacaan dan penulisan, IP Address biasanya direpresentasikan dalam bilangan desimal. Jadi, range address di atas dapat diubah menjadi address 0.0.0.0 sampai address 255.255.255.255. Nilai desimal dari IP Address inilah yang dikenal dalam pemakaian sehari-hari. Beberapa contoh IP Address adalah :

44.132.1.20
167.205.9.35
202.152.1.250

Ilustrasi IP Addres dalam desimal dan biner dapat dilihat pada gambar 1 berikut :

Gambar 1. IP Address dalam Bilangan Desimal dan Biner

IP Address dapat dipisahkan menjadi 2 bagian, yakni bagian network (bit-bit network/network bit) dan bagian host (bit-bit host/host bit). Bit network berperan dalam identifikasi suatu network dari network yang lain, sedangkan bit host berperan dalam identifikasi host dalam suatu network. Jadi, seluruh host yang tersambung dalam jaringan yang sama memiliki bit network yang sama. Sebagian dari bit-bit bagian awal dari IP Address merupakan network bit/network number, sedangkan sisanya untuk host. Garis pemisah antara bagian network dan host tidak tetap, bergantung kepada kelas network. Ada 3 kelas address yang utama dalam TCP/IP, yakni kelas A, kelas B dan kelas C. Perangkat lunak Internet Protocol menentukan pembagian jenis kelas ini dengan menguji beberapa bit pertama dari IP Address. Penentuan kelas ini dilakukan dengan cara berikut : ·

  • Jika bit pertama dari IP Address adalah 0, address merupakan network kelas A. Bit ini dan 7 bit berikutnya (8 bit pertama) merupakan bit network sedangkan 24 bit terakhir merupakan bit host. Dengan demikian hanya ada 128 network kelas A, yakni dari nomor 0.xxx.xxx.xxx sampai 127.xxx.xxx.xxx, tetapi setiap network dapat menampung lebih dari 16 juta (2563) host (xxx adalah variabel, nilainya dari 0 s/d 255). Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar 2 berikut.


    Gambar 2. Struktur IP Address Kelas A

     

  • · Jika 2 bit pertama dari IP Address adalah 10, address merupakan network kelas B. Dua bit ini dan 14 bit berikutnya (16 bit pertama) merupakan bit network sedangkan 16 bit terakhir merupakan bit host. Dengan demikian terdapat lebih dari 16 ribu network kelas B (64 x 256), yakni dari network 128.0.xxx.xxx – 191.255.xxx.xxx. Setiap network kelas B mampu menampung lebih dari 65 ribu host (2562). Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar 3 berikut.

    Gambar 3. Struktur IP Address Kelas B
     
  • Jika 3 bit pertama dari IP Address adalah 110, address merupakan network kelas C. Tiga bit ini dan 21 bit berikutnya (24 bit pertama) merupakan bit network sedangkan 8 bit terakhir merupakan bit host. Dengan demikian terdapat lebih dari 2 juta network kelas C (32 x 256 x 256), yakni dari nomor 192.0.0.xxx sampai 223.255.255.xxx. Setiap network kelas C hanya mampu menampung sekitar 256 host. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar 4.


    Gambar 4. Struktur IP Address Kelas C
    Selain ke tiga kelas di atas, ada 2 kelas lagi yang ditujukan untuk pemakaian khusus, yakni kelas D dan kelas E. Jika 4 bit pertama adalah 1110, IP Address merupakan kelas D yang digunakan untuk multicast address, yakni sejumlah komputer yang memakai bersama suatu aplikasi (bedakan dengan pengertian network address yang mengacu kepada sejumlah komputer yang memakai bersama suatu network). Salah satu penggunaan multicast address yang sedang berkembang saat ini di Internet adalah untuk aplikasi real-time video conference yang melibatkan lebih dari dua host (multipoint), menggunakan Multicast Backbone (MBone). Kelas terakhir adalah kelas E (4 bit pertama adalah 1111 atau sisa dari seluruh kelas). Pemakaiannya dicadangkan untuk kegiatan eksperimental.

    Jenis kelas address yang diberikan oleh kooordinator IP Address bergantung kepada kebutuhan instansi yang meminta, yakni jumlah host yang akan diintegrasikan dalam network dan rencana pengembangan untuk beberapa tahun mendatang. Untuk perusahaan, kantor pemerintah atau universitas besar yang memiliki puluhan ribu komputer dan sangat berpotensi untuk tumbuh menjadi jutaan komputer, koordinator IP Address akan mempertimbangkan untuk memberikan kelas A. Contoh IP Address kelas A yang dipakai di Internet adalah untuk amatir paket radio seluruh dunia, mendapat IP nomor 44.xxx.xxx.xxx. Untuk kelas B, contohnya adalah nomor 167.205.xxx.xxx yang dialokasikan untuk ITB dan jaringan yang terkait ke ITB dibawah koordinator Onno W. Purbo.

    Address Khusus

    Selain address yang dipergunakan untuk pengenal host, ada beberapa jenis address yang digunakan untuk keperluan khusus dan tidak boleh digunakan untuk pengenal host. Address tersebut adalah :

    • Network Address.
      Address ini digunakan untuk mengenali suatu network pada jaringan Internet. Misalkan untuk host dengan IP Address kelas B 167.205.9.35. Tanpa memakai subnet, network address dari host ini adalah 167.205.0.0. Address ini didapat dengan membuat seluruh bit host pada 2 segmen terakhir menjadi 0. Tujuannya adalah untuk menyederhanakan informasi routing pada Internet. Router cukup melihat network address (167.205) untuk menentukan kemana paket tersebut harus dikirimkan. Contoh untuk kelas C, network address untuk IP address 202.152.1.250 adalah 202.152.1.0. Analogi yang baik untuk menjelaskan fungsi network address ini adalah dalam pengolahan surat pada kantor pos. Petugas penyortir surat pada kantor pos cukup melihat kota tujuan pada alamat surat (tidak perlu membaca seluruh alamat) untuk menentukan jalur mana yang harus ditempuh surat tersebut. Pekerjaan “routing” surat-surat menjadi lebih cepat. Demikian juga halnya dengan router di Internet pada saat melakukan routing atas paket-paket data.
    • Broadcast Address.
      Address ini digunakan untuk mengirim/menerima informasi yang harus diketahui oleh seluruh host yang ada pada suatu network. Seperti diketahui, setiap paket IP memiliki header alamat tujuan berupa IP Address dari host yang akan dituju oleh paket tersebut. Dengan adanya alamat ini, maka hanya host tujuan saja yang memproses paket tersebut, sedangkan host lain akan mengabaikannya. Bagaimana jika suatu host ingin mengirim paket kepada seluruh host yang ada pada networknya ? Tidak efisien jika ia harus membuat replikasi paket sebanyak jumlah host tujuan. Pemakaian bandwidth akan meningkat dan beban kerja host pengirim bertambah, padahal isi paket-paket tersebut sama. Oleh karena itu, dibuat konsep broadcast address. Host cukup mengirim ke alamat broadcast, maka seluruh host yang ada pada network akan menerima paket tersebut. Konsekuensinya, seluruh host pada network yang sama harus memiliki address broadcast yang sama dan address tersebut tidak boleh digunakan sebagai IP Address untuk host tertentu. Jadi, sebenarnya setiap host memiliki 2 address untuk menerima paket : pertama adalah IP Addressnya yang bersifat unik dan kedua adalah broadcast address pada network tempat host tersebut berada. Address broadcast diperoleh dengan membuat seluruh bit host pada IP Address menjadi 1. Jadi, untuk host dengan IP address 167.205.9.35 atau 167.205.240.2, broadcast addressnya adalah 167.205.255.255 (2 segmen terakhir dari IP Address tersebut dibuat berharga 11111111.11111111, sehingga secara desimal terbaca 255.255). Jenis informasi yang dibroadcast biasanya adalah informasi routing.
    • Netmask.
      Adalah address yang digunakan untuk melakukan masking / filter pada proses pembentukan routing supaya kita cukup memperhatikan beberapa bit saja dari total 32 bit IP Address. Artinya dengan menggunakan netmask tidak perlu kita memperhatikan seluruh (32 bit) IP address untuk menentukan routing, akan tetapi cukup beberapa buah saja dari IP address yg kita perlu perhatikan untuk menentukan kemana packet tersebut dikirim.  

    Kaitan antara host address, network address, broadcast address & network mask sangat erat sekali – semua dapat dihitung dengan mudah jika kita cukup paham mengenai bilangan Biner. Jika kita ingin secara serius mengoperasikan sebuah jaringan komputer menggunakan teknologi TCP/IP & Internet, adalah mutlak bagi kita untuk menguasai konsep IP address tersebut. Konsep IP address sangat penting artinya bagi routing jaringan Internet. Kemampuan untuk membagi jaringan dalam subnet IP address penting artinya untuk memperoleh routing yang sangat effisien & tidak membebani router-router yang ada di Internet. Mudah-mudahan tulisan awal ini dapat membuka sedikit tentang teknologi / konsep yang ada di dalam Internet.

Wild-Net [ Jangkauan Wi-Fi Capai 380 Km ]

Selasa, 20/11/2007 11:23 WIB

Jangkauan Wi-Fi Capai 380 Km

Fransiska Ari Wahyu – detikinet
<!––>


Eric Brewer (VOANews)
California – Wi-Fi selama ini hanya didesain untuk jarak dekat. Saat ini telah dikembangkan sebuah alat untuk memperluas jangkauan teknologi Wi-Fi. Jangkauannya bisa mencapai lebih dari 380 kilometer.

Adalah Eric Brewer, profesor ilmu komputer di University of California, Berkeley telah mengembangkan sebuah alat untuk memperluas jangkauan teknologi Wi-Fi (Wireless Fidelity). Alat tersebut adalah WiLDNet, Wi-Fi yang berbasis pada jaringan jarak jauh.

Selama ini Wi-Fi hanya didesain untuk jarak dekat. Eric Brewer memprediksikan bahwa sebagian besar WiLdNet hanya akan dibutuhkan untuk menjangkau jarak beberapa kilometer. Namun, di Venezuela, sebuah jaringan yang menggunakan teknologi WiLd-Net dan software khusus, mampu mencapai jarak lebih dari 380 kilometer (km).

WiLDNet menggunakan sebuah perangkat jaringan (router) yang hanya membutuhkan daya 7 watt, yang dapat dihasilkan oleh baterai mobil, energi matahari atau energi listrik dari provider lokal. Jaringannya menggunakan antena yang dibantu dengan siaran ulang (relay) di tempat-tempat dimana perangkat tersebut tidak dapat ditempatkan secara langsung.

Dikutip detikINET dari VOANews, Selasa (20/11/2007), WiLDNet dapat digunakan untuk tujuan kemanusiaan maupun untuk tujuan bisnis atau bahkan kedua-duanya. Berkat WiLDNet, sekolah pedalaman di Ghana dan Filipina bisa terhubung dengan internet. Di Guinea-Bissau, WiLDNet digunakan untuk menghubungkan stasiun radio komunitas. Di India bagian selatan, WiLDNet menghubungkan pusat perawatan mata di sebuah desa miskin dengan rumah sakit mata di kota Theni sehingga penduduk desa dapat memperoleh perawatan dari dokter melalui video konferens. Hasilnya, sebanyak 3.000 pasien dengan keluhan serius sekarang telah dapat melihat dengan lebih baik.

Tips Mendownload Video di Internet

Tips Mendownload Video di Internet

Pernah menemukan video keren di Youtube, atau Google Video? Ingin mendownload-nya namun sayangnya bingung bagaimana caranya. Berikut adalah tips-tips yang adoe dapetin untuk medownload video dari tempat-tempat tersebut.

1. Youtube
Untuk melihat video di youtube, anda cukup memastikan bahwa browser yang digunakan mendukung JavaScript dan Flash, kalau kagak ad yang dua tu adoe ragu anda dapat mandownloadnya dan Cara mendownload video dari youtube adalah :

  1. Cari alamat video yang anda sukai;
  2. Copy paste alamat video tersebut, ada di bagian URL (contoh: http://www.youtube.com/watch?v=i6AjcQUy14A);
  3. Buka situs : http://javimoya.com/blog/youtube_en.php ;
  4. Paste alamat video youtube tersebut di situs http://javimoya.com/blog/youtube_en.php dan klik “download”;
  5. Setelah beberapa saat, akan muncul tombol “download link”.
  6. Klik kanan tombol download link dan ganti nama file “get_video” menjadi “nama_file_yang_anda_inginkan.flv” (tanpa tanda kutip) saat ditanya dimanakah file akan disave;
  7. Setelah selesai, buka file yang telah anda download dengan FLV Player atau VLC Player.

Google Video
Medownload video dari Google, terbilang lebih mudah, cuma ganti pilihan video aja nie acaranya:

  1. Buka http://video.google.com;
  2. Cari video yang anda inginkan (contoh : http://video.google.com/videoplay?docid=4478761825897814247&q=Muse );
  3. Lihat tab sebelah kanan;
  4. Di menu drop down, (default-nya “Windows/Mac”) ganti dengan “Video iPod”;
  5. Klik tombol download dan downloadan anda akan dimulai.

Catatan : Pilihan “Video iPod” dan “Sony PSP” akan membuat anda mendownload file video dengan extensi “.MP4“. File dengan ekstensi ini bisa dibuka dengan QuickTime Player. Apabila anda memilih pilihan “Windows/Mac” maka anda medownload file dengan format “.gvp”. Untuk memainkannya dibutuhkan Google Video Player.

Technorati : , , , ,

Sudah dulu ya buat teman-teman adoe cuma bisa gucapin met nonton ya.

Posted in Tips dan Triks.